Tentang Menepati Janji

Janji adalah hutang… sebagai muslim, aku yakin bahwa ketika kita berjanji maka kita harus berusaha untuk memenuhinya. Bahkan kita diharapkan tidak lupa mengucapkan insyaAllah ketika mengucapkan janji, karena itu merupakan kepastian kita bahwa kita akan menepati janji yang kita ucapkan itu. Dalam pengamalannya, kata insyaAllah ini sudah bergeser menjadi sekedar pemanis bibir dan akibatnya pernah ada teman yang protes ke aku supaya tidak mengucapkan kata itu, karena dia merasa kalau aku bilang gitu berarti aku dah niat untuk tidak menepati… astaghfirullah. Waktu itu aku agak emosi nerimanya, sampai akhirnya pelan-pelan aku jelasin, bahwa secara jadwal saya bisa, tapi kan tetep aja wallahu a’lam, kita tidak bisa memastikan 100% karena kita tidak tahu rencana Allah kan???

Dan tentang menepati janji ini, beberapa waktu lalu ada kejadian yang lumayan bikin eneg di hati. Aku nulis ini juga cuma sebagai pengingat pribadi biar nanti-nantinya tidak seperti ini. Jadi aku ada temen yang sebenarnya cukup dekat. Awal hubungan kami baik-baik saja, sempat kerja sama jualan juga, kami sering bertukar barang, saling membantu menjualkan dagangan kita masing-masing. Semakin kesini, wallahu a’lam apa yang terjadi dengannya, yang ada dia mulai sering mengingkari janji yang dia buat sendiri. Seringnya si misal janji mau datang hari selasa jam 10, yang ada di jam yang ditentukan gak hadir dan ditunggu kabarnya gak ada kabar… ntar ngabari lagi pas udah lewat jauh dari jam janjian, bahkan pernah sampai ganti hari… hufffff. Tapi giliran dia sudah sampai lokasi janjian duluan, yang ada nyecer kita mulu via sms, kapan kita nyampe, dah sampai mana, jadi datang gak, aku dah nungguin ni… hhhggghhh.

Pernah di satu waktu, aku sampai nanya ke dia kenapa si sering banget mblenjani janji yang dia buat sendiri? Dia selalu pake alasan anak-anaknya yang bikin dia kesulitan memenuhi janji. Yang terakhir kemarin, alasannya dia mendadak ada diklat di diknas, jadi gak bisa nemuin aku. Helloooo, hari gini sms susah banget yaaaa??? Sampe aku pernah bilang, memang saya bukan salah satu hal yang penting dalam hidup anda, bukan yang kudu diprioritaskan dalam keseharian njenengan, tapi anda bukan satu-satunya manusia di dunia ini yang sibuk, tapi yang namanya tanggung jawab menepati janji kan itu urusan masing-masing individu sama Allah. Dan tahu apa yang selanjutnya??? NO COMMENT aja dari dia… #urut dada. Jadi yang terakhir ini kita dah sms-an janjian mau ketemuan di jumat pagi dan 2 jam sebelum jam janjian, aku dah sms memastikan mau datang jam berapa, dan gak dibalas dong… tahu-tahu sore hari aku disms bahwa dia minta ikhlasku yang besar tuk memaafkan dia. Astaghfirullah. Suami sampai protes karena kejadian ini dan minta aku tidak behubungan lagi dengan dia supaya tidak bikin aku berpenyakit hati.

Dari kejadian itu kan bikin aku jadi berkaca, jangan-jangan aku pernah melakukan hal yang sama. Selama ini, aku termasuk yang rewel kalo urusan janjian, karena aku pengennya aku beneran bisa memenuhi janji. Ya kalau perlu aku sampaikan jadwalku sampai rinci dengan teman yang aku ajak janjian bisa saling menyesuaikan jadwal. Niat baik begini aja adaaaa aja yang jua gak suka. Dibilang rese amat si janjian aja ribet. Padahal setiap detik kita kan berharga ya?? Ada jeda setengah jam bisa buat nyusuin anak, bisa jadi satu masakan sederhana, bisa pula setrika 10 potong baju… atau bahkan tilawah setengah juz..so daripada setengah jam untuk menanti ketidakpastian, mendingan dipakai buat hal lain yang lebih berguna kan? Waktu yang tersedia buat mak-mak dengan 4 anak yang masih kudu nyambi kerja 8-16 itu jadi terbatas banget,

Tapi ada juga temen yang sangat paham, jadi dia selalu sudah tahu kalo aku janjian ma dia dan dah mepet jamku pulang, ya dia selalu menahan diri tidak banyak mengajak ngobrol. Asyiklah kalo sama teman yang paham begini, ya karena dia juga punya aturan, setiap jam 10 malam-9 pagi hp dia juga dia matikan buat memberi waktu dia beristirahat dan mengurus rumah, jadi ya jangan harap bisa telepon dia atau sms yang pengen langsung dibalas… kudu nunggu di atas jam 9 pagi.

Intinya, sebenarnya dengan kita memenuhi hak orang lain berarti sebenarnya kita juga melindungi dan menghormati hak kita sendiri kan?? Itu yang selalu aku tanamkan ke diri aku sendiri dan mulai aku tanamkan ke anak-anak. Ponakanku sudah sangat paham itu, jadi diapun menerapkan hal yang sama, dia tidak akan keluar rumah sebelum nanya ke aku, karena hubungannya dengan pembagian tugas jaga rumah. Atau juga kayak dzaky yang sudah mulai bikin acara sama teman-temannya, ya dia udah harus bisa mikir kira-kira ada yang antar gak,mengganggu jadwal ayah atau ibu yang kudu antar-jemput gak, dan sebagainya. Jadi mengajari dia buat gak langsung mengiya-iyakan janjian ma temen dan berakhir ingkar janji karena ternyata ayah atau ibunya pas gak bisa membantu.

Sebenarnya tidak susah kok menepati janji. Kalau kita ngerasa sebel ketika teman lain tidak tepat janji, yakinlah, mereka juga mengalami hal yang sama ketika kita ingkar janji juga ke mereka. Prinsipku, apa yang aku tidak suka atas perlakuan orang lain ke aku, ya itu juga yang aku usahakan tidak kulakukan.

Iklan