Eyangku Sayang

Imam An-Nawaawi menjelaskan, “Arti birrul waalidain yaitu berbuat baik terhadap kedua orang tua, bersikap baik kepada keduanya, melakukan berbagai hal yang dapat membuat mereka bergembira, serta berbuat baik kepada teman-teman mereka.” Al-Imam Adz-Dzahabi menjelaskan bahwa birrul waalidain atau bakti kepada orang tua, hanya dapat direalisasikan dengan memenuhi tiga bentuk kewajiban: Pertama: Menaati segala perintah orang tua, kecuali dalam maksiat. Kedua: Menjaga amanah harta yang dititipkan orang tua, atau diberikan oleh orang tua. Ketiga: Membantu atau menolong orang tua, bila mereka membutuhkan.

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

(24) “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al-Isra: 23-24).

Imam An-Nawaawi menjelaskan, “Arti birrul waalidain yaitu berbuat baik terhadap kedua orang tua, bersikap baik kepada keduanya, melakukan berbagai hal yang dapat membuat mereka bergembira, serta berbuat baik kepada teman-teman mereka.” Al-Imam Adz-Dzahabi menjelaskan bahwa birrul waalidain atau bakti kepada orang tua, hanya dapat direalisasikan dengan memenuhi tiga bentuk kewajiban: Pertama: Menaati segala perintah orang tua, kecuali dalam maksiat. Kedua: Menjaga amanah harta yang dititipkan orang tua, atau diberikan oleh orang tua. Ketiga: Membantu atau menolong orang tua, bila mereka membutuhkan.

Kutipan di atas itu sangaaaat sering kita baca.. doanya pun pasti tiap hari kita lantunkan untuk kedua orang tua kita. Teori-teori sudah kita hapalkan di luar kepala, kalau lihat anak-anak sekarang, dari mulai kecil pasti sudah kita ajari doa buat orang tua. Tapiiiii, ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa kita harus membersamai orang tua, baik itu ayah atau ibu kita atau bahkan nenek-kakek kita, maka semua teori itu tinggal teori saja (mulai deh curhat ^_^)

Image

Ini foto entah kapan, pas lebaran. tapi ini yang aku punya yang komplit sama keluarga.. cantik kan eyangku?? ^_^

 

Kebetulan, saya termasuk yang dapat kesempatan indah bisa membersamai eyang saya sampai akhir hayat beliau.. eyang yang merupakan ibu dari mamaku itu sejak awal sudah memintaku buat menemani beliau… Pas aku lahir, beliau yang kasih aku nama, terus aku lulus SD, beliau minta aku menemaninya di Yogya. Banyak buanget pelajaran yang aku dapat dari beliau…. Mulai dari belajar urusan rumah tangga, belajar tentang ketegaran beliau menghadapi hidup, belajar hemat, sampai belajar tata karma dan bahasa Belanda…

Karena beliau juga, ketika adik-adikku satu-persatu nyusul ikut sekolah ke Yogya, aku dah gak kagok lagi ngurusi mereka. Bahkan di masa SMPku, aku sering lho ditinggal eyang menengok cucu ke luar kota, sementara aku kudu mengurus makan orang-orang yang kos di rumah eyang, karena masa itu eyang terima kosnya include makan di dalam. Semakin kesini, kedekatan kami semakin parah.. dan aku paling sering kejatah antar eyang kemana-mana juga, ke Jakarta, bogor, salatiga, ambil pensiun, dll dsb, banyaklah momen indah sama eyang. Eyang yang selalu bisaaa aja meracik bahan makanan sederhana jadi makanan lezat istimewa, eyang yang kadang bikin jengkel juga, karena kita makannya dijatah, yaa waktu itu kan memang kondisi serba mepet ya… sampai pas eyang naik haji pun, yang masuk daftar pengganti semisal eyang tidak bisa berangkat ya aku ini.

Kondisi eyang mulai menurun pas aku kuliah akhir-akhir semester, eyang mulai turun daya ingatnya.. sudah mulai sering lupa ini itu. Semisal papa-mama mau ke yogya, dari siang dah pesan beli capcay rebus di tetangga dan berakhir bau gak bisa kemakan karena eyang lupa mengeluarkan dari tempat simpanannya. Ya banyak deh lupa ini-itu yang kadang-kadang bikin gemesss.

Tapiiii, eyang itu sayangnya poll ke aku.. sampai mungkin bisa dibilang posesif walau tak terucap. Pas aku mau wisuda, bukannya seneng cucunya lulus kuliah, yang ada malah sakit, kayak stress gitu sudah membayangkan cucunya ini habis lulus, kerja di luar kota, ninggalin eyang di Yogya. Alhamdulillah papa-mama termasuk yang legowo, membolehkan aku tetap di Yogya dengan bekerja semampuku, yang penting tetap di samping eyang. Alhamdulilah lancar, eyang mulai bisa paham kalau aku gak akan kemana-mana.

Kondisi yang stabil ini kemudian gonjang-ganjing lagi dengan rencanaku menikah. Entah gimana, mendadak eyang yang jadi pendiaam banget, terus mulai gak mau dahar, mulai ngirit bicara, dan puncaknya, seminggu sebelum jadwal nikahku, eyang masuk rumah sakit karena dehidrasi. Pokoknya eyang bikin suasana jadi heboh, karena kan otomatis banyak acara yang harus disusun ulang. Akhirnya pernikahan berjalan tapi jadi keluarga tidak bisa lengkap hadir karena sebagian kudu tetap jaga eyang di Yogya, yang lain di Temanggung. Mulai membaik lagi, karena habis nikah, dengan banyak pertimbangan, akhirnya aku dan suami tidak cari rumah kontrakan, tapi tetap tinggal sama eyang, istilahnya duit yang sedianya buat ngontrak rumah ya ditabung aja.. daripada rumah eyang juga kosong. Ya bye-bye lah yang namanya pengantin baru berbulan madu atau menikmati masa-masa saling mengenal secara privacy, karena mau keluar berdua aja yang susah, karena eyang tidak bisa ditinggal sendiri, harus ada yang menemani. Jaraaaaaang ada kesempatan pergi berdua sama suami.

Ketika semua lancar lagi, tetiba suami diterima sekolah lagi di Jepang dan aku yang tadinya karena pertimbangan eyang gimana, pengennya gak nyusul, yang ditolak mentah-mentah sama papa.. efek berikutnya ya eyang jatuh sakit lagi, bahkan pas aku dah berangkat, eyang yang sudah susah banget jalan, kakinya mengecil, hiks. Semakin kesini kondisi eyang semakin lemah, tambah gak mau bicara, gak bisa jalan, diterapi kesana kemari pun sudah, tapi ya kondisinya begitu-begitu saja. Pas aku balik lagi, beneran yang kemana-mana sudah gak bisa, duduk pun sudah susah… subhanallah buat adikku Wahyu yang begitu sayangnya, selama aku gak ada, dia lho yang selalu gendong eyang ke kamar mandi, memandikan eyang, nyebokin kalo pas BAB, dan menyuapinya. Dari adikku ini juga aku belajar bahwa mengurus orang tua itu kunci kita ke surga, tapi balik lagi, syarat dan ketentuan berlaku, kalau ikhlas ya insyaallah, surga itu pasti kita dapat, tapi kalau nggak.. yang jangan harap.. yang ada capek hati, badan, dan pikiran doang,lainnya GAK ADA.

Kalo lihat sekarang si, bisalah cerita santai, sambil nangis juga, NYESEL, karena ada saat pas aku capek dan rasanya eyang gak mau kerja sama.. dan bikin aku akhirnya teriak-teriak ke eyang, hiks. Kadang iri sama adikku yang bisa sabarrr ngadepin eyang kalo pas beliau baru susah.. sementara aku yang kalau cuma mandiin, nyebokin masih hayuk santé aja. Tapi giliran nyuapin yang pake diemut lamaaaa atau beresin BABnya yang pas masih bisa jalan suka kelepasan di tengah jalan menuju kamar mandi dan mengotori sepanjang jalan dari kamar eyang sampai kamar mandi, itu yang bikin TERIAK GEMESSSS.

Yah ternyata memang baru segitu level sabarku.. walaupun teori-teori di atas dah melekat di otak.. ternyata emang aku sendiri yang belum bisa sampai kesitu.. ada saat aku lupa bahwa orang tua itu bukan tambah pintar, tapi tambah mundur… bahwa terlepas dari kondisi eyang yang semakin menurun itu, banyak hal yang sudah beliau ajarkan yang harusnya bikin saya sadar dan tetap sabar menghadapi beliau, tapi ya balik lagi.. kalo pas stock sabarku menipis.. yang ada selalu jadi emosi, hiks.

Eyang meninggal di tanggal 24 November 2006 jam 16.45 persis 3 minggu setelah lahirnya Rafi, setelah sempat paginya aku mandiin keramas di atas tempat tidur karena aku belum berani nggendong eyang ke kamar mandi karena kondisiku yang habis melahirkan. Eyang sedo setelah dari senin nunggu salah satu anaknya datang, dalam kondisi bulik dan aku temani. Pengalaman pertamaku menemani orang sakaratul maut dan itu adalah eyangku sendiri, hiks. Jadi eyang mulai menurun banget habis jumatan, bidan tetangga hanya mengatakan tunggu waktu. Habis ashar semakin menurun, tapi Alhamdulillah kita tuntun berdoa beliau dengan lancar bisa mengikuti, dan karena semakin memburuk, bulik ngabani supaya kita ngganti baju eyang, in case beliau sedo itu sudah dalam kondisi bersih dan siap menghadap Allah.

Semoga Allah mengampuni semua dosa beliau dan semua amalan beliau menjadi pemberat timbangan amal baik beliau. I love you always eyang, dan mungkin di alam sana, eyang sudah memaafkan semua kesalahanku yang mungkin selama membersamai eyang banyak sikap ika yang kurang berkenan di hati eyang. Tapi ika ngerasa beruntung banget diberi kesempatan bisa banyak menimba ilmu dari eyang, menerima paling  banyak kesempatan bisa dekat sama eyang dibandingkan semua cucu eyang yang lain. Yang lain mana ada yang diajari langsung cara melipat baju yang disetrika, cara nyampur-nyampur bahan masakan sederhana jadi sesuatu yang beda, dibantu ngerjain tugas kuliah bahasa Belanda, dan dapat kesempatan banyak jalan-jalan dengan dalih nemenin eyang, dan gak ada cucu lain selain aku dan adikku Dewi yang ngrasain eyang bikin keributan di dapur, di saat ada teman laki-laki kita yang main dan dianggap sudah kelamaan, how lucky I am kan??

Iklan

6 thoughts on “Eyangku Sayang

  1. Ikaaaa…. beruntung banget bisa nemenin Eyang sampai saat saat terakhir beliau dan mempraktekkan birrul walidain .. aku jauh dari Bapak dan Ibu sejak SMA dan udah nikah juga langsung jauh dari beliau berempat.
    Semoga semua pengorbananmu bukan saja mendapat manfaat seperti yang dikau sebutkan (belajar banyak hal dan jalan-jalan) tapi juga berbuah pahala di akhirat kelak. amiiin..

  2. Ping-balik: Wonderful Wife di sekitarku | When everyday is a blessing day

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s