Tentang Papa (Atensinya dalam Pendidikan)

Sesuai saran mbak ely… insyaAllah akan ada lanjutan cerita tentang papaku tercinta, yang akan kubagi menjadi beberapa postingan saja, itung-itung belajar nulis bertema khusus…

Perhatian papa di bidang pendidikan termasuk besar… it’s in his blood kali ya?? Maksudnya, eyangku, bapak-ibunya papa juga kan sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya, dari 9 bersaudara, 5 di antaranya mengenyam pendidikan tinggi, 4 di antaranya sarjana, sementara papa cukup beruntung sampai D3.

Ketika memutuskan kembali ke desanya, papa sudah punya azzam (tekad) untuk membangun desa, dengan kemudian menjadi guru di SD Negeri I Wonotirto, yang ada di dusun kami. Sekitar tahun 1975 kata mama, beliau memulai karir mengajarnya di desa kami. Papa ini termasuk guru killer, kalo istilah sekarang. Bagi yang pernah sekolah/mengajar/lihat pembelajaran di desa terpencil pasti bisa membayangkan sulitnya bagi guru untuk mendisiplinkan anak-anak belajar, karena kebanyakan orang tuanya juga buta huruf. Jadi benar-benar belajar itu hanya mereka lakukan di kelas, padahal guru-guru juga yang kebanyakan datang dari tempat lain (bukan dari desa kami) juga pasti punya masalah dengan transportasi ke tempat kerja mereka, ya jadi kan kerjanya pun tidak begitu maksimal. Jadi yang terjadi, kalau tidak terlampau parah, mereka dengan mudah bisa naik kelas 2 atau dari kelas 2 ke kelas 3… nha papa ini ngajarnya di kelas 3, jika sampai menjelang kenaikan kelas murid belum juga bisa membaca, jangan harap bisa lolos naik ke kelas 4, papa sangat ketat dalam hal ini. Sehingga bisa ada murid yang 2-3 tahun duduk di kelas 3, ya karena belum bisa baca ini.

Sama dengan adikku, aku juga termasuk agak takut juga pas duduk di kelas 3 ini,  bukan takut gak naik karena tidak bisa baca, tapi lebih takut salah manggil pak guru dengan sebutan Papa, jadilah aku termasuk anak yang pendiam pas kelas 3 ini ^_^.

Seiring dengan berjalannya waktu, papa juga nyambi jadi guru bahasa Inggris di SMP PGRI, salah satu sekolah yang diusahakan keberadaannya oleh almarhum eyang kakung, dalam rangka memudahkan warga desa supaya tidak harus jauh-jauh ke kota untuk sekolah. Bisa ngajar bahasa inggris ini karena memang papa kuliah di ABA jurusan bahasa Inggris, jadi ada basic lah.

Papa ini termasuk cermat dalam memperhitungkan sekolah kami… dengan hitungan 3 anak yang usianya relatif berdekatan, papa mengatur sedemikian rupa sehingga tidak ada anak yang masuk sekolahnya barengan (dalam artian, gak ada cerita yang satu masuk smp, satunya masuk sma di tahun yang sama gitu). Dan untuk membuatnya begitu, akulah yang jadi ‘korban’ dengan usia 5,5 tahun sudah harus masuk SD ^_^.

Papa juga punya prinsip, bahwa anak-anaknya harus dan wajib berpendidikan lebih tinggi dari orang tuanya, jadi karena mama lulusan SAA dan papa D3, ya kita minimal kudu S1 lah, dan melihat kurangnya persaingan di desa… ya gimana mau saingan ya? Sementara kelas 3 SD teman-teman masih berkutat di belajar memahami bacaan, sementara kami sudah dilanggankan majalan Bobo dan Kuncung dan sebangsanya, juga sudah sering dipinjami buku dari perpustakaan tempat kerja ibu, jadi papa melihat bahwa supaya kami bisa melampaui papa-mama, ya kudu keluar dari desa kami. Ya gak tahu gimana pertimbangan mereka, tapi begitu lulus SD, ya kami dititipkan ke eyang, ibunya mama di Yogya ini.

Tidak tahu juga bagaimana perjuangan mereka buat kami sekolah di Yogya,lagipula, meskipun bermodal selalu ranking 1 selama SD dan NEM tertinggi waktu lulusan, tidak membuatku jadi ketrima di SMP Negeri favorit. Waktu itu dilempar ke SMP yang jaraknya jauuuh dari rumah eyang, jadinya aku milih ke SMP Muhammadiyah yang otomatis buat biaya masuknya aja jadi papa kudu ekstra cari tambahan. Tapi yang namanya juga anak-anak, pas ngejalanin ya rasanya berat banget. Ya karena aku anak sulung, jadi otomatis jadi yang pertama keluar dari rumah kan, huaaa, pengen nangis, padahal bukan yang ngekos gitu kan, masih ada eyang, masih ada bulik dan oom waktu itu, tapi berat kudu meninggalkan rumah dengan segala ceritanya. Yang sama eyang waktu itu dijatah Rp.300 saja/hari, itupun 200 nya buat naik bisa, dan uang jajan 100. Kalo ada les atau ada ekstra sampe sore ya dibawain makan dari rumah, bukan yang boleh jajan beli makan besar gitu. Dan itu berlanjut sampai aku SMA, uang saku masih sama… bisa agak ketawa karena kelas 2 SMA aku dibelikan sepeda, jadi lumayan lah, uang saku bisa buat jajan semua. Dan agak nambah karena kelas 3 SMA setelah dapat SIM, aku boleh naik motor, jadi ada tambahan anggaran buat beli bensin.

Meskipun begitu, cara papa-mama dan eyang dalam mendidik kami membuat kami jadi tidak manja kok. Termasuk keras menurutku. Pas mulai diajarin puasa misalnya. Kalo gak salah mulai SD deh kami mulai belajar puasa. Dulu itu rasanya puasa sehari itu serasa seabad.. lebay banget ya… apalagi mulai jam 4.30 sore itu rasanya dah lemessssss banget sampe nahan kepala aja gak kuat. Maka mama-papa akan terus membujuk kami supaya kuat, bahkan jika ada rencana ke Yogya, yang berarti kudu naik mobil di bak belakang, ya udah disediakan kasur dan sebagainya supaya kami nyaman dalam perjalanan dan kalopun ketiduran karena lemas puasa ya tidurnya di tempat yang enak.

Papa memang tidak pernah memaksa kami harus ranking bagus, beliau hanya berpesan supaya kami berusaha semaksimal mungkin. Walau tidak terucap, tapi sebenarnya kami paham, kalo kami harus berusaha sebisa mungkin sekolah di negeri, bukan di swasta. Alhamdulillah aku bisa sma di negeri, dan ketika sempat mengalami krisis karena kebanyakan ikut kegiatan di luar sekolah, papa-mama dengan setia menyemangati aku agar tidak putus asa, dan supaya terus melangkah. Alhamdulillah berhasil, aku bisa lulus dengan nilai bahasa Inggris terbaik… meski nilai lain passss buat lulus. Dan juga bisa lulus UMPTN ke UGM atas berkat doa banyak orang, terutama papa-mama dan eyang dari papa.

Urusan masuk kuliah ini sebenarnya juga dilema, karena aku benar-benar bingung mau milih apa waktu itu. Sampai akhirnya yang jadi patokanku, yang penting aku sekolah di universitas negeri, selain hemat biaya juga lebih buat kebanggaan keluarga besar papa, karena saat itu belum ada satu pun keturunan eyang yang masuk universitas negeri. Jadi kalo pinjam kata-kata adik, bisa jadi sebenarnya kemampuan yang kita pakai hanya 10%, 90%nya adalah doa dari para orang tua. Hal yang sama juga terjadi pada adikku bungsu, yang diidamkan tetap berada di Yogya menemani eyang, karena sebelumnya adikku dewi lebih memilih untuk kuliah jauh ke negeri matahari terbit.

Inget banget yang waktu papa selalu menanyakan kemajuan kuliahku dan pandangan bangganya padaku tiap kali aku bisa menunjukkan IPku yang Alhamdulillah selalu bisa di atas 3, that’s all for you pa. tapi juga ketegasan beliau ada ketika menjelang tahun kelimaku, aku masih sibuk dengan organisasiku, papa dengan santainya bilang, apalagi yang kamu tunggu? Dah mau habis lima tahunnya… kalo agustus tidak juga wisuda, semester depan, kamu bayar SPP sendiri ya?? Hihihihihi, maluuuu, tapi itu juga jadi penyemangatku segera menyelesaikan kuliah dan akhirnya tepat di Agustus 1999 aku resmi diwisuda, didampingi papa-mama tercinta.

Perhatian beliau pada pendidikan juga beliau tunjukkan dengan banyak membantu saudara-saudara supaya bisa melanjutkan sekolah. Ada beberapa yang beliau bantu biayanya, juga misal ada yang nitip uang-uang infaq atau shadaqah, maka akan beliau salurkan untuk memberi semacam bantuan pendidikan buat tetangga yang kurang mampu. Juga ketika menjabat kepala desa, salah satu program beliau ya memajukan pendidikan ini, sehingga Alhamdulillah di desa kami bisa berdiri satu SMP Negeri yang sekarang sudah semakin maju dan lumayan berprestasi juga.

Semoga semua yang sudah papa lakukan bisa menjadi amal salih beliau yang bisa menjadi saksi beliau di hari akhir nanti dan ikut memberatkan timbangan pahala papa, amien!!

Image

Foto keluarga resmi yang niat banget sampe ke studio foto, lupa kapan fotonya, tapi kayaknya ini pas dewi pulang liburan deh

Iklan

10 thoughts on “Tentang Papa (Atensinya dalam Pendidikan)

  1. Kok kita samaan lagi ya, jd seperti membaca kisahku sendiri hehe..
    bapakku juga guru. . Yg ngajar di kampung yg masyarakatnya msh banyak yg buta huruf. .
    dan aku di sd juga selalu ranking 1… ya emang krn persaingannya cetek sih hihi. . Tapi aku sekolah di sd deket rumah. , bukan di sd tempat bapakku ngajar. .

  2. Aamiiiinnn..
    Itu foto studionya bener2 jadi kenangan banget ya, mbak. Ih, jadi makin kenceng deh, niat ngajak foto A3 ke jonas… *oot*
    Dan setelah jadi orangtua gini, bukankan jadi pengen juga ya, dikenang baik sama para kucils itu, mbak? Aku takut A3 ingetnya emaknya ini tukang ngomel mulu, iniiiii… 😦

    • Iya e mbak, habis susah. belum keturutan yang foto studio sama cucu-cucu, eh kakungnya dah dipanggil sama yang lebih sayang, hiks
      Itu dia PEER banget buat aku juga.. kadang aku juga nanya, mereka sebel gak si sama ibunya yang tukang ngomel ini??? Eh, kata mereka, kalo ibu dah diem aja, mereka malah takut, hahaha… jadi boleh ni ngomel terus??

  3. wah … diosting juga akhirny attg beliau mbak, makasih ya 🙂

    mbak Ika murid pandai Dong ya kalau dapat ranking satu terus dann NEM tertinggi, dan IP diatas 3 itu nggak semua mahasiswa bisa meraihnya lho mbak, keren deh 🙂

    kebayang itu ya mbak pas kelas 3 , bagaimana setiap pagi bertemu bapak sendiri sbg Guru, pasti byk cerita juga pas kelas 3 ini ya mbak ? 😛

    • Ya kan sudah ditulis mbak, karena di desa yang saingannya memang gak banyak. Nyatanya dengan nilai tertinggi di desa, tidak bisa masuk SMP Favorit kan mbak?? ^_^
      Hihihihi, detilnya pas kelas 3 dah banyak lupa mbak… jadi tidak bisa banyak cerita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s