15 Oktober 2001-15 Oktober 2013

Postingan telat tapi gapapa lah, buat catatan diri juga. Time flies… dibilang gak berasa wong ya berasa, tapi dibilang berasa kok tiba-tiba sudah 12 tahun aja ya…

15 Oktober kemarin adalah milad pernikahan kami yang ke-12… betapa waktu berlari, dan semoga yang sudah berlalu bisa kami ambil pelajaran dan hikmahnya, amien.

Diawali dengan pertemuan tidak sengaja di stasiun kereta api Tugu Yogyakarta, dia baru mau berangkat ke Jakarta, sedangkan aku baru turun dari kereta yang membawaku beserta eyang putri dari sana… pertemuan itu singkat saja, hanya tukar sapa sekedarnya.

Hari-hari berlalu, aku yang waktu itu masih kerja di satu lembaga penerjemahan, dengan segala pertimbangan memutuskan untuk beralih kerja, ambil yang paruh waktu karena kondisi kesehatan eyang yang sudah jauh menurun. Jadi aku pikir mendingan aku kerja di rumah sambil menjaga eyang. Waktu itu bulan Juni 2001… tidak lama sesudahnya, dia datang bersilaturahmi bersama sahabatnya. Aku  bukannya tidak kenal mereka, mereka berdua kakak kelas SMA yang dulu sama-sama aktif di Rohis. Tak lama setelah itu, dia beberapa kali telepon dan pernah menanyakan apakah aku sudah dalam proses dilamar orang. Aku jawab aja belum, emang kenapa? Dan no answer.

Sekitar awal Agustus, dia telepon lagi, apakah boleh main ke Temanggung tuk ketemu Papa-Mama, aku jawab silakan saja, kenapa tidak. Dan ternyata niatnya kesana adalah dalam rangka MELAMAR…. WAIT WAIT WAIT… SIAPA YANG MAU DILAMAR?? KENAPA GAK TANYA ORANGNYA DULU MAS??? HUAAAAA

Ya intinya aku bilang jangan bilang ke Papa dulu lah, biarkan aku yang mengawali bilang ke mereka, sementara aku juga perlu merenungkannya lebih dahulu. Kagetku belum hilang, dan aku jadi bingung, bagaimana ini… aku salat istikharah, dan dari criteria calon suami yang selama ini aku mintakan pada Allah, dia memang masuk semua… yang sudah bekerja lah, seseorang yang aku kenal tapi tidak terlalu dekat (yang ini dalam rangka memudahkan menerangkan ke orang tuaku karena aku berpaham tidak mau pacaran sebelum menikah), dan jelas, dia punya iktikad baik untuk langsung menikah, bukan yang ngajak pacaran gak jelas.

Setelah timbang-timbang beberapa waktu, aku coba matur papa-mama dan kami diskusi panjang lebar dan akhirnya mereka sepakat untuk menerimanya. Pertengahan Agustus akhirnya dia datang bersama keluarga besar, resmi melamarku dan karena masing-masing kami pengennya sesegera mungkin (yang ditentang papa karena beliau pengen tetep ada resepsi), maka diputuskan 15 Oktober adalah waktu yang dianggap tidak terlalu lama dan cukup untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Sebenarnya aku dan calon suami sepakatnya kami menikah dengan sederhana, tapi karena sesuatu dan lain hal, resepsi kudu dan wajib dilaksanakan… ya monggolah Pa, kami manut saja. Jadi beneran yang sibuk Papa-Mama, aku santai-santai di Yogya, sementara dia ada di Jakarta karena masih kuliah waku itu. Aku paling pulang sekedar buat ketemu perias penganten, selain kerjaan yang baru lumayan banyak, juga eyang kan kudu ada yang jaga. Paling heboh adalah seminggu sebelum hari pernikahan, eyang jatuh sakit, gak kerso dahar yang bikin beliau dehidrasi dan kudu opname… padahal kan aku juga kudu pulang. Akhirnya aku pulang 3 hari sebelum hari H setelah ada bulik yang rawuh dan bisa nungguin eyang. Alhamdulillah pernikahan berjalan lancar walau tanpa rawuhnya eyang dan beberapa bulik, karena gantian jaga eyang. 2 hari setelah hari H juga ada kabar kalo eyang putri dari suami sedo… sediiih.

Perjalanan kami boleh dikatakan jauuuhhh dari romantic, lha wong awal-awal nikah aja mau pergi berdua susaaah… karenaharus selalu ada yang jaga eyang di rumah. O ya, kami diminta sama keluarga besar untuk tetap tinggal sama eyang, daripada uang hilang buat bayar kontrakan, mending ditabung sembari kami menjaga eyang.

Setahun pertama benar-benar penuh perjuangan bagi kami… yang dari cuma kenal sekilas kemudian harus jadi satu, aku yang dari keluarga yang kalo ketemu saudara hebohnya gak karuan, kudu ketemu suami yang ngomongnya kalo gak ditabuh gak bunyi, dan banyaaak lagi penyesuaian-penyesuaian yang kudu kami sepakati… dan beneran kami tinggal serumah tanpa orang lain ya pas di Fukuoka dulu… sekitar tahun ke-4 pernikahan kami…. waaa, jangan tanya berapa banyak air mata tertumpah.. haha lebay, tapi itulah proses pendewasaan diriku.

Sampai kemudian juga anak-anak lahir, masing-masing kami belajar menjadi lebih dewasa, belajar untuk lebih bisa mengatur diri, tidak boleh mengedepankan emosi, karena kami punya amanah yang harus kami jaga dan harus kami kembalikan kelak dalam kondisi yang baik juga.

Image

1+1 tidak selalu = 2, ini buktinya.. = 6.. foto pas idul fitri kemarin ni…

12 tahun bukan waktu yang sebentar untuk belajar menjadi lebih dewasa, tapi juga belum cukup lama untuk bisa memahami rencana Allah pada kami. Dari yang lamaa tidak juga hamil, kemudian dikasih amanah 4 anak, dan sekarang ada lagi ujian buat kesabaran kami, yaaaa semoga kami selalu istiqomah di jalanNya dan semoga Allah selalu melindungi dan memberkahi keluarga kami, amien!!!

Kami yakin, Allah tidak akan menguji yang di luar batas kemampuan kami.. kata-kata  bijak yang mudah diucapkan, tapi susaaaahhh ketika menjalaninya, tapi insyaAllah kami pasti bisa… Bismillah…

Iklan

12 thoughts on “15 Oktober 2001-15 Oktober 2013

  1. Waaaahhhh.. selamat sudah 12 tahun, mbaaaakkk…! Suhu aku dong, nih. Tolong saya nanti banyak dibantu ya, suhu.. 🙂
    Ini salah 1 bentuk taaruf yg indaaahhh…! Congrats sekali lagi, semoga kalian berjodoh dunia akhirat. Aamiin…. *nodong kue* 😆

    • Suhu apaan ini maksudnya?? Hahahhaa.. kayaknya lebih tepatnya kita harus berguru ke mbak Tituk dan mbak Titi.. mbak Fitri jadi adik seperguruan saya, hihihihihi
      Ma kasih doanya ya mbak…. ayo ke Yogya, insyaAllah pasti aku bikinin kue…^_^

  2. Aiiih udah 12 tahun ajaaaaaaa hahaha bisa jadi nggak kerasa karena ngejalaninnya kan sama yang tercintaaaah *sungkem* Semoga ke tahun-tahun depannya tambah indah ya Ka, grow old together healthy and content with each other.

  3. loh kok sama lagi ya mbak, suamiku itu kalau nggak ditaboh ya nggak bunyi hihihi 😛

    penuh liku liku ya mbak perjalanan cinta dan pernikahannya, jadi teringat alm. bapak mbak Ika yg memandang segala sesuatu dari sisi baiknya, semoga ujian kesabaran yang sedang dialami sekarang bisa melaluinya dengan baik ya mbak, dan semoga perkawinanya akan langeng, bahagia selalu, happy anniversary mbak 🙂

  4. Barakallaaaaah………
    Smg menjadi keluarga samarada ya….
    Btw tahun pertama bercucuran air mata itu toooossss… kayaknya itu macam air yang menyiram cinta hahah
    *sekarangbisaketawa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s