Yang ada di upacara 17-an kemarin…

Telat banget yak postingannya?? Ya daripada cuma ngendon di draft, itung-itung rada-rada nostalgia, mumpung masih di bulan Agustus juga. Di kantorku yang memang pendiri kampusnya termasuk para pejuang ’45, wajib yang namanya upacara 17 Agustus.. jadi tidak perduli itu tanggal merah yang sangat berarti buat mak-mak beranak 4 ini, tapi upacara kudu jalan terus dan karyawan wajib hadir mengikutinya ^_^

Upacara kemarin sempat rada geli.. dari mulai komandan upacaranya salah aba-aba, jadi kita masih dalam kondisi istirahat di tempat di suruh geser posisi… yang pengibar benderanya jalannya gak bisa serempaklah, yang tali pengikat bendera lupa belum disiapin sebelumnya, yang bikin mereka kudu mbenerin dulu agak lama sebelum akhirnya bendera siap dinaikkan, yang lagu Indonesia Raya selesai tapi bendera belum sampai atas.. hal-hal itu bikin aku jadi tertawa geli.

Jadi ingat masa-masa masih SMP-SMA… SMP dulu tugasku hanya berkisar di baca Pembukaan UUD ’45, baca doa, atau baca Janji Pelajar. SMA rada naik pangkat karena ikutan baris-berbaris, jadi pengibar bendera rada seringlah. Yang jelas waktu itu, semua petugas upacara pasti kena briefing yang gak boleh ada salah, terutama pengibar bendera.

Diurutin lagi, kebetulan masa SMA itu aku ikutan ekskul TONTI (Pleton Inti) yang emang kerjaannya gak jauh-jauh dari baris-berbaris yang efeknya bikin kulit yang sudah hitam ini jadi makin rata… itemnya, hihihihi. Dari TONTI ini juga akhirnya dapat kesempatan mewakili sekolah jadi anggota PASKIBRA tingkat kotamadya… wuuuiiihhh, berasa uzur kalo mengingat masa-masa itu…tapi banyak hal yang bisa kudapat dari kegiatan itu:

1.       Yang utama adalah belajar kedisiplinan… berasa telat 5 menit aja siap deh dihukum sama senior

2.       Kekompakan, karena kita kan satu tim ya, yang kalo satu salah, maka otomatis semua salah.. yang aku bersyukur, waktu itu pelatihku, mbak Titin itu suabarrr minta ampun, walau tegas emang orangnya.. tapi beliau selalu menerangkan kenapa begini-begitu itu dengan alasan yang logis, jadi kita menjalaninya pun dengan senang hati. Suenengnya pas pernah di satu lomba kita menang di salah satu kategori, terbayar deh capeknya berbulan-bulan puasa dibakar sinar matahari ituuu…

3.       Kebanggaan jadi warga Negara Indonesia

Ini kejadiannya pas kita mau dilantik sebagai anggota PASKIBRA, jadi kan kita dikumpulkan di satu ruangan di balai kota gitu… duplikat bendera merah-putih ada di tengah ruangan, kemudian ada petugas yang menjelaskan sejarah panjang bendera bangsa kita tercinta itu. Di suasana yang dah mulai syahdu itu, ada petugas yang muter sambil bawa bendera, dan kita disuruh cium itu bendera…. masyaAllah, kebayang deh, demi bendera ini, berapa juta pahlawan yang sudah gugur… betapa beruntungnya kita yang sekarang  menikmati kemerdekaan, dan bagaimana seharusnya kita harus selalu menjaga kemerdekaan ini, merdeka lahir-batin, hiks… jadi pengen mewek lagi

Yang jelas, sejak itu, aku jadi yang mellow aja kalo liat bendera merah-putih berkibar diiringi lagu Indonesia Raya, betapa juga gemes ketika para pengibar bendera gak siap dengan tugas mereka..

Ya, minimal sekarang si, pengalaman itu bisa kutularkan ke anak-anak, bukan di keharusan mereka ikut ekskul ini, tapi lebih kepada keharusan mereka bangga sebagai warga Negara Indonesia, apapun bentuknya….yang kita kenalkan lagu-lagu kebangsaan, yang kita ceritakan para pahlawan dulu.. eyang-eyang buyut mereka yang juga termasuk pejuang.. ya biar mereka tahu, bahwa kenyamanan yang mereka rasakan sekarang itu adalah hasil kerja keras, bersimbah darah para syuhada pendahulu kita.. MERDEKA!!!

Iklan

10 thoughts on “Yang ada di upacara 17-an kemarin…

  1. Sepakat sekali dengan paragraf terakhirnya, mbak Ika. Karena kadang kita selalu memandang ada saja negatifnya negeri kelahiran kita itu. Padahal bagi orang asing, ada banyak kehebatan Indonesia. Hidup Indonesia!

  2. Kaaa, krucils besok nih di sekolahnya 17 an digabung sama halal bihalal lebaran. DAn dari dua hari lalu…..sontreknya Indonesia Raya. Aku hampir lupa di beberapa bagian.
    Eh di skolahku dulu yang ekskul paskibra itu dianggap elite banget, isinya cuma 19 bow, cadangan 2 kan. Soalnya seleksinya paling ketat dan biasanya pinter pinter

  3. Merdeka ! Setuju sekali bagian yg paling bikin mewek adalah pas cium bendera itu.
    Selamaaaat yaaa… menang sampai tingkat Kodya kala itu pasti kereeeen sekali….. pilihan dari para pilihan.
    Mmmm.. skrg kan banyak yaaa… yg lomba sampai LN padahal ‘hanya’ mewakili klub dan punya duit buat ongkosnya… *piiis*

    Aku ngerasain ngibarin bendera sampai SD aja, soalnya siapa berani (berani malu) aja …paling dagdigdug yang di pinggir yaa.. bagian ngiket atau bagian narik. Yang tengah jg harus berani pegel nahan posisi tangan megang bendera gitu kaan….
    Klo pas SMP SLA ora kanggo karena alasan ANATOMI ituh. Termasuk gagal nerusin sekolah perawat karena mungil juga. Huh! *dendam* *padahaldahgembulsejaklahir*

    • Iya betul mbak… sensasinya asyik banget untuk urusan jadi pengibar bendera ini…
      justru kalo smp aku gak kepake karena masalah ANATOMI ini.. gak tau kayak orang habis disunat aja, ketika SMA malah jadi bisa masuk ke tim inti ini
      Rejeki mbak Titi memang bukan jadi perawat kan??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s